INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – Potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengemuka di Palangka Raya menjelang musim kemarau 2026. rezim kota mulai menyiapkan jejak antisipasi, seiring prakiraan musim kering banget Nan tiba kelebihan mula.
Rapat koordinasi lintas instansi digelar di Kantor Wali Kota Palangka Raya, Senin 20 April 2026, hasilkan membahas penetapan keadaan siaga. jejak ini menunjukkan rezim membaca ancaman karhutla sebagai ancaman Nan perlu diantisipasi sejak mula.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi berucap rezim telah menyiapkan sejumlah jejak pencegahan. Namun ia menegaskan, efektivitas penanganan tetap bergantung pada kondisi di lapangan.
“Secara Biasa kita sedia, tetapi tetap perlu kewaspadaan Seiring,” ungkapan Budi.
informasi BPBD mencatat, sejak Januari hingga April 2026 terdapat 98 titik kebakaran berdua besar terdampak Sekeliling 4 hektare. Sebaran kebakaran terjadi di sejumlah area, antara lain Kecamatan Jekan Raya, Pahandut, dan Sebangau. Adapun Kecamatan Rakumpit relatif belum terdampak.
Nomor tersebut sebagai indikator mula bahwa ancaman karhutla mulai tampak bahkan sebelum puncak musim kemarau. Kondisi ini diperkuat oleh prakiraan raga Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nan menyebut musim kemarau di Kalimantan inti diperkirakan mulai pada pekan ketiga Mei dan terjadi hingga Agustus berdua Watak kelebihan kering banget.
bagian dalam situasi itu, rezim mengedepankan pendekatan pencegahan. Patroli terpadu telah dijalankan berdua mengikutsertakan BPBD, Dinas Lingkungan Hayati, Satpol PP, serta unsur pemadam kebakaran. Selain itu, pembentukan Kelurahan Handal Musibah diarahkan hasilkan menegaskan deteksi mula di tingkat area.
“Kelurahan sebagai bagian Krusial bagian dalam server peringatan mula dan penanganan mula,” ujar Budi.
Meski demikian, Unsur perilaku masyarakat tetap sebagai variabel Krusial. Pembukaan lahan berdua jejak membakar Tetap sebagai tidak presisi Esa penyebab Primer kebakaran di sejumlah area.
Karhutla Tak hanya berpengaruh pada lingkungan, tetapi juga berpeluang mengganggu kesehatan, aktivitas ekonomi, dan mobilitas masyarakat. Pengalaman kabut asap pada tahun-tahun lebih masa lalu sebagai rujukan bahwa imbas kebakaran meraih meluas.
rezim kota mengajak masyarakat Tak mengerjakan pembakaran lahan, seiring meningkatnya potensi kebakaran pada musim kemarau tahun ini.
Editor: Andrian