INTIMNEWS.COM, PALANGKA RAYA – raga center Statistik (BPS) Kalimantan center (Kalteng) mencatat kinerja ekspor wilayah menunjukkan arah positif pada permulaan 2026. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, evaluasi ekspor Kalteng mendapatkan US$931,49 juta atau setara Sekeliling Rp16,20 triliun (kurs Rp17.389,95 per dolar AS per 4 Mei 2026). Nomor ini tumbuh 7,03 persen dikontraskan periode Nan Baju tahun sebelum itu Nan sebesar US$870,30 juta atau Sekeliling Rp15,13 triliun.
Kenaikan ini didorong oleh Penguasaan komoditas nonmigas, Nan seluruhnya menyumbang evaluasi ekspor pada periode tersebut. Komoditas Primer Tetap bertumpu pada sektor primer, seperti batu bara, minyak kelapa sawit, kayu olahan, lignit, karet remah, hingga bijih mineral seperti zirconium, niobium, dan tantalum.
Secara struktur, sektor pertambangan berperan penyumbang terbesar berdua evaluasi ekspor mendapatkan US$709,65 juta atau Sekeliling Rp12,34 triliun. Nomor ini berkontribusi 76,18 persen terhadap jumlah ekspor dan tumbuh 10,03 persen dikontraskan periode Nan Baju tahun Lampau. Batu bara dan lignit Tetap berperan tulang punggung Primer internal Golongan ini.
Fana itu, sektor industri pengolahan mencatat evaluasi ekspor sebesar US$216,11 juta atau Sekeliling Rp3,76 triliun, berdua kontribusi 23,20 persen. Namun, sektor ini Malah merasakan penurunan enteng sebesar 0,76 persen dikontraskan tahun sebelum itu. Komoditas Primer di sektor ini meliputi minyak kelapa sawit, kayu olahan, karet remah, hingga layanan turunan seperti bungkil dan makanan hewan.
Di sisi lain, sektor pertanian menunjukkan arah penurunan paling tajam. evaluasi ekspor sektor ini hanya mendapatkan US$5,73 juta atau Sekeliling Rp99,6 miliar, berkurang 24,51 persen dikontraskan tahun sebelum itu Nan sebesar US$7,59 juta atau Sekeliling Rp132,0 miliar.
Kalau dilihat kelebihan rinci, peningkatan ekspor terbesar terwujud pada Golongan bahan bakar mineral Nan tumbuh sebesar US$93,70 juta atau Sekeliling Rp1,63 triliun (tumbuh 15,36 persen). Fana Golongan lemak dan minyak nabati juga merasakan kenaikan sebesar US$13,10 juta atau Sekeliling Rp227,8 miliar. Sebaliknya, penurunan tajam terwujud pada Golongan bijih, kerak, dan arang logam Nan berkurang sebesar US$24,57 juta atau Sekeliling Rp427,2 miliar.
Dari sisi republik maksud, Jepang berperan pasar Primer ekspor Kalteng berdua evaluasi mendapatkan US$320,39 juta atau Sekeliling Rp5,57 triliun (34,40 persen dari jumlah ekspor). Disusul India sebesar US$208,84 juta atau Sekeliling Rp3,63 triliun (22,42 persen) dan Tiongkok sebesar US$94,24 juta atau Sekeliling Rp1,64 triliun (10,12 persen).
Peningkatan ekspor terbesar tercatat ke India Nan tumbuh sebesar US$66,78 juta atau Sekeliling Rp1,16 triliun (47,01 persen), diikuti Jepang sebesar US$58,69 juta atau Sekeliling Rp1,02 triliun (22,43 persen). Fana itu, ekspor ke Korea Selatan Malah merasakan penurunan besar sebesar US$56,75 juta atau Sekeliling Rp987,2 miliar.
Namun, di balik capaian tersebut, terdapat catatan Krusial terkait infrastruktur ekspor. Sebagian Akbar ekspor Kalteng Malah Tak melalui pelabuhan di wilayah sendirian. Dari jumlah ekspor Januari-Maret 2026, hanya Sekeliling US$216,41 juta atau setara Rp3,76 triliun (23,23 persen) Nan melalui pelabuhan di Kalteng. Sisanya, sebesar US$715,08 juta atau Sekeliling Rp12,43 triliun (76,77 persen), diekspor melalui provinsi lain, terutama melalui Pelabuhan Banjarmasin Nan menyumbang kelebihan dari 64 persen jumlah ekspor.
Pelabuhan Kumai berperan gerbang ekspor terbesar di internal wilayah Kalteng berdua evaluasi Sekeliling US$185,77 juta atau Rp3,23 triliun. Disusul Pelabuhan Sampit sebesar US$15,93 juta (Rp276,9 miliar), Pelabuhan balik Pisau sebesar US$12,26 juta (Rp213,1 miliar), serta Pelabuhan Pangkalan Bun sebesar US$2,45 juta (Rp42,6 miliar).
Kondisi ini menunjukkan Tetap terbatasnya kapasitas dan daya dukung infrastruktur logistik di Kalteng. Bahkan, evaluasi ekspor melalui pelabuhan Domestik Malah merasakan penurunan sebesar US$2,38 juta atau Sekeliling Rp41,4 miliar (berkurang 1,09 persen) dikontraskan tahun sebelum itu.
BPS Kalteng mengevaluasi bahwa meskipun kinerja ekspor menunjukkan peningkatan, struktur ekonomi wilayah Tetap didominasi oleh komoditas mentah dan bergantung pada infrastruktur bagian luar wilayah. Hal ini berperan tantangan Akbar distribusi upaya peningkatan evaluasi tingkat dan kemandirian ekonomi wilayah ke Ambang.
Penulis: Redha
Editor: Andrian