Jayapura, Jubi – Empat Wanita dan Esa Pria telah kehilangan nyawa dikarenakan kekerasan pasangannya tahun ini. Ini berarti setiap nyawa Nan Lenyap dikarenakan kekerasan bagian dalam Griya tangga telah terlalu lumayan berlimpah.
Hal ini dikatakan pejabat Urusan Wanita, Anak, dan Perlindungan Sosial Sashi Kiran, Nan mengkritisi hal ini bagian dalam pernyataan pejabat mengenai pembaruan agenda langkah dalam negeri Pemberdayaan Ekonomi Fiji (2025–2030) di Parlemen pagi ini. Demikian dilansir jubi.id dari laman internet www.fijivillage.com, Jumat (8/8/2025).
Kiran berucap, menurut statistik kejahatan terbaru Kepolisian Fiji hasilkan purnama Juni 2025, pelanggaran seksual telah bertambah sebesar 28 persen, berdua 60 persen korban berusia di bawah 18 tahun.
Ia berucap, kejahatan terhadap anak telah bertambah sebesar 8 persen—extra dari separuhnya menyertakan pelecehan seksual, dan Nyaris seperempatnya melangkah di bagian dalam Griya keluarga.
Ia mengimbuhkan bahwa kekerasan bagian dalam Griya tangga Tetap meluas, dan paling sering dijalankan oleh orang-orang terdekat korban.
pejabat memberikan penghargaan kepada Personil Parlemen dikarenakan mengenakan pin kesadaran atau mengenakan busana hitam masa ini—menunjukkan persatuan dan tekad hasilkan menghentikan kekerasan bagian dalam segala bentuknya.
Ia mengajak kepada seluruh Personil Parlemen dan para tokoh bagian dalam tradisi Religi, sektor bisnis, serta tokoh masyarakat, hasilkan bersuara menentang kekerasan berbasis gender.
Ia juga mendorong mereka hasilkan memperbaiki sikap toleransi nol terhadap segala bentuk kekerasan di Griya dan komunitas mereka.
Kalau Anda atau seseorang Nan Anda tau merasakan kekerasan bagian dalam Griya tangga, silakan hubungi saluran Donasi bebas pulsa 1560, Nan disediakan dari koneksi mana pun.
Hirarki Desa dan Gereja Dukung kuasa Suami atas Istri
Mengutip laman internet www.intechopen.com, diinformasikan bahwa Majemuk budaya Hayati berdampingan di Fiji. bagian dalam suatu penelitian hasilkan memahami extra baik interaksi kompleks antara tradisi tradisional masyarakat Budaya, seperti iBulubulu (atau iSoro) di Fiji, dan respons platform aturan terhadap kekerasan bagian dalam Griya tangga di masyarakat lain, diungkapkan bahwa extra dari Esa Golongan di Fiji Tetap menjalankan upacara rekonsiliasi tradisional Nan dikenal sebagai iBulubulu (Arno, 1976; Stamatakis, 2024). Orang Fiji sering memakai ritual ini ketika menyelesaikan masalah, sengketa, atau keluhan masyarakat (Capell, 1991).
hasilkan memahami sepenuhnya kesulitan dan sengketa seputar masalah kekerasan bagian dalam Griya tangga, kita perlu mengeksplorasi latar belakang budaya dan sejarah Fiji. tidak presisi Esa kekhawatiran lebar Ialah perlakuan keras terhadap mereka Nan menyimpang dari Kebiasaan-Kebiasaan seksual bagian dalam budaya Fiji. Newland (2016) bagian dalam analisis antropologis masyarakat Fiji menunjukkan bahwa hierarki desa dan gereja mendukung kuasa suami atas istri. Misalnya, bagian dalam khotbah rutin dan komunikasi berdua jemaat setempat, para pendeta menegaskan kewajiban Wanita hasilkan menyetujui dan merangkul hak istimewa serta Penguasaan Pria.
Selain itu, mereka mengusulkan bahwa Wanita harus mengindahkan ungkapan-ungkapan Pria dikarenakan Pria mewujudkan keilahian bagian dalam Griya tangga, dan Wanita harus menahan diri dari melanggar peran gender Nan telah ditentukan agar Tak Membikin Pria emosi (Newland, 2016, hlm. 57).
platform Budaya tradisional pengampunan dan rekonsiliasi Eksis bagian dalam budaya pribumi Fiji (iTaukei) dan Indo-Fiji. Orang Indo-Fiji Baju mencari Donasi dari Personil keluarga Akbar Nan extra Uzur—seperti kakek-nenek atau orang Uzur Kekasih—hasilkan berdamai, Fana penduduk Orisinil Fiji memakai bulubulu atau soro (permintaan sorry atas pelanggaran).
bagian dalam skenario kekerasan bagian dalam Griya tangga iTaukei Nan khas, istri akan kembali ke Griya orang tuanya, dan suami akan menghadirkan soro (hadiah) kepada keluarga Wanita hasilkan menebus peristiwa tersebut. Istri Baju dipaksa meraih soro oleh orang Uzur dan kuasa desa (Tonsing & Barn, 2021). Hadiah atau kompensasi Nan disampaikan pelaku kepada keluarga Wanita dimaksudkan hasilkan memaksa Wanita tersebut kembali kepada pelaku.
Kebiasaan ini bersifat regresif dikarenakan kandas memberikan keadilan dan kesetaraan distribusi istri; suami Tak dihukum, hanya dipermalukan dan dikhawatirkan akan sebagai bahan gosip. extra berikut, kebiasaan ini memprioritaskan Pria daripada Wanita. (*)