Di inti gempuran festival musik berskala masif dan Penguasaan genre pop arus Primer di Indonesia, panggung Pagelaran musik Tanah Air mendapatkan sebuah oase kultural Nan menyegarkan. Pada 11 September 2026, gelaran konser intim Tohpati Ethnomission hasil dihelat di Teater Wahyu Sihombing, Kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta inti.
Dipromotori oleh POS Entertainment, Pagelaran ini menyediakan eksklusivitas tingkat menjulang berdua kapasitas ruang Nan dirancang terbatas – hanya menampung 300 penonton. Format teater Nan rapat dan tidak berjarak ini hasil mengeliminasi jarak antara panggung dan Loka nongkrong, menciptakan sirkulasi Daya Nan intens, kehangatan, serta intim antara para musisi dan audiens Nan hadir.
Membawakan setlist berisi 11 komposisi padat, kuintet Tohpati Ethnomission menyajikan eksplorasi peleburan antara progresif jazz-rock dan Usul tradisi Nusantara. Sang maestro, Tohpati (gitar), memimpin orkestrasi Nan garang namun tetap kaya mendalam teknis.
bantuan lini musik diisikan oleh Pola musisi kawakan Nan sangat solid: Indro Hardjodikoro pada bas, Demas Narawangsa pada drum, Endang Ramdan pada instrumen kendang, serta Diki Suwarjiki Nan meniup suling dan tarompet Sunda.
Dimensi Pagelaran sebagai kian Hayati, teatrikal, dan magis berkat hadirnya dua kerlip tamu istimewa. Pendongeng Cilik Kitama Arturo tampil menyuarakan keprihatinan serta kesedihan atas Musibah kebakaran hutan melalui tutur gaya pewayangan pada lagu “Save The Planet”. Fana itu, keluwesan Mobilitas Penari Widiaastri hasil menerjemahkan emosi dan dinamika nada ke bagian dalam koreografi visual Nan anggun pada komposisi Srikandi.
Melalui gelaran ini, Tohpati kembali membuktikan kapasitasnya bukan sekadar sebagai gitaris virtuoso, melainkan seorang arsitek budaya. Di atas panggung, ia tampil sangat Matang berdua menekan ego permainan solonya, menjadikan dawai gitar elektriknya sebagai Rekan perbicangan Nan seimbang dan memberi ruang melebar sebar instrumen tradisi ciptakan turut bersinar.
Ketajaman visinya sebagai komposer terlihat dari caranya meramu elemen etnik Nusantara, tak sekadar ditaruh sebagai ornamen tempelan eksotis, melainkan dijadikan tulang punggung struktural Nan melebur secara organik berdua progresi jazz-rock modern.
Puncaknya, kapasitas Tohpati sebagai music director teruji sempurna ketika ia hasil mengorkestrasi kuintet musik, langkah Pendongeng cilik, hingga koreografi penari bagian dalam presisi akustik teater Nan ketat, menjamin seluruh elemen lintas disiplin tersebut bersinergi sebagai Esa mahakarya Pagelaran kontemporer bertaraf Bumi.
Oase dan Ruang Apresiasi Berkelas
jejak POS Entertainment menggelar format intimate concert bergenre ethno-fusion pada lanskap industri musik ketika ini merupakan manuver Nan patut mendapat apresiasi menjulang. Di ketika pas melimpah promotor berlomba mengejar kuantitas massa lewat festival Akbar, POS Entertainment Malah menunjukkan idealisme, keberanian, dan arah estetika berdua menggarap ceruk pasar niche Nan mengedepankan kualitas akustik, kedalaman karya, serta pelestarian budaya.
Konser ini sebagai bentuk komitmen Nan kokoh terhadap tata urus ekosistem musik Nan Tak hanya berorientasi pada komersialisasi massal, melainkan pada kurasi seni tingkat menjulang. extra dari sekadar hiburan visual dan audio, Pagelaran ini sebagai statement Krusial bahwa di inti arah musik Nan kian seragam, Indonesia tetap Mempunyai dan sangat membutuhkan ruang apresiasi Nan intim dan berkelas ciptakan merayakan kompleksitas mahakarya para musisinya.